Kamis, 05 Oktober 2017

Jangan Jadikan Rumah Kalian Sebagai Kuburan

Jangan Jadikan Rumah Kalian Sebagai Kuburan


Penjelasan Hadits: “Jangan Jadikan Rumah Kalian Sebagai Kuburan”

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا ، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا ، وَصَلُّوا عَلَيَّ ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai Id, bershalawatlah kepadaku karena shalawat kalian akan sampai kepadaku dimanapun engkau berada
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2042), Imam Ahmad dalam Musnad-nya (8605), Ath Thabrani dalam Al Ausath (8/81), dan yang lainnya.

Derajat hadits

Semua perawi hadits ini tsiqah kecuali Abdullah bin Nafi’ Al Makhzumi, ia diperselisihkan statusnya. Ibnu Ma’in menganggapnya tsiqah, namun Al Bukhari berkata: “ada kekurangan pada hafalannya”. Ibnu Hajar berkata: “ia tsiqahshahihul kitab, namun hafalannya layyin (agak lemah)”. Maka perawi yang demikian lebih tepat dihukumi shaduq, hasan haditsnya, wallahu a’lam. Dan terdapat syawahid dari jalan Ali bin Abi Thalib, Al Hasan bin Ali dan sahabat yang lain, sehingga hadits ini terangkat menjadi shahih. Syaikhul Islam dalam Al Iqtidha (2/169) mengatakan: “hadits ini hasan dan memiliki beberapa syawahid“. Hadits ini dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud (2042).
Bahkan ashl hadits ini terdapat dalam Bukhari-Muslim, dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda
اجعلوا في بيوتِكم من صلاتِكم، ولا تتَّخِذوها قبورًا
jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan” (HR. Al Bukhari no. 432, 1187, Muslim no. 777)

Penjelasan “Jangan Jadikan Rumah Kalian Sebagai Kuburan”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
Par a ulama berbeda pendpat mengenai makna ‘jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan‘ dalam 2 pendapat:
Pendapat pertama: maknanya jangan kalian menguburkan orang yang mati di sana (rumah). Dan ini sesuai dengan zhahir hadits. Namun terdapat hadits lain yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dikubur di rumahnya. Ini dijawab oleh para ulama dengan bahwasanya hal tersebut adalah kekhususan bagi beliau.
Pendapat kedua: maknyanya janganlah kalian menjadikan rumah kalian seperti kuburan, yang disana tidak dilaksanakan shalat. Karena telah menjadi hal yang dipegang oleh para ulama, bahwa di kuburan itu tidak boleh didirikan shalat. Makna ini dikuatkan oleh riwayat dengan jalan yang lain:
اجعلوا في بيوتِكم من صلاتِكم، ولا تتَّخِذوها قبورًا
jadikanlah rumah kalian sebagai tempat shalat kalian, jangan jadikan ia sebagai kuburan
Kedua makna di atas benar. Karena menguburkan orang mati di rumah adalah sarana menuju kepada kesyirikan. Karena kebiasaan yang dipraktekkan sejak masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam hingga hari ini bahwa orang mati itu dikuburkan bersama kuburan kaum muslimin yang lain. Dan juga bisa memberikan kesusahan pada keluarga yang ditinggalkannya, karena terkadang melihat kuburannya bisa membuat sedih atau terkadang keluarganya tersebut mengeluarkan kata-kata yang terlarang (contohnya: meratap berlebihan, minta doa, minta hajat, tabarruk, tawassul, pent.). Dan ini semua tidak sesuai dengan maksud syariat, yaitu bahwa kuburan seharusnya menjadi pengingat akan akhirat.
Hadits ini merupakan dalil bahwa kuburan bukanlah tempat untuk shalat. Karena menjadikan kuburan sebagai tempat shalat merupakan penyebab kesyirikan.
Hadits ini juga merupakan dalil bahwa yang afdhal itu seseorang shalat di rumahnya, maksudnya yaitu untuk seluruh shalat sunnah. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة
shalat yang afdhal bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat-shalat wajib” (HR. Al Bukhari no. 7290)
kecuali shalat-shalat yang terdapat dalil dari syariat bahwa pelaksanaannya dilakukan di masjid, seperti shalat kusuf, shalat tawarih di bulan Ramadhan. Bahkan, walaupun berada di Mekkah atau Madinah, shalat sunnah di rumah tetap lebih afdhal berdasarkan keumuman hadits di atas. Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun ketika mensabdakan demikian, beliau berada di Madinah.
PesantrenQuranYatim
(Majmu’ Fatawa war Rasail, 2/235, Asy Syamilah)http://kitabisa.com/pesantrenquranyatim

Cara Bersyukur Dengan Lisan, Hati dan Amal Perbuatan

Apa itu syukur? Pertanyaan tentang pengertian syukur dan macamnya sudah dipaparkan pada bahasan pengertian syukur. Melanjutkan bahasan tersebut, timbul pertanyaan bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita hambanya? Berikut ini adalah cara-cara bersyukur kepada Allah. Apa yang paling penting dan diamalkan dari cara-cara beryukur tersebut.

Namun sebelumnya sebagai pembuka bahasan cara-cara bersyukur mari kita perhatikan dalil firman Allah dalam Al-Qur’an al-Karim dan juga dalil Hadits Nabi yang menerangkan keharusan dari bersyukur. Firman Allah dalam Al-Qur’an :

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Dari ayat di atas, menekankan dan memberikan kepada kita pengertian bahwa bersyukur itu adalah suatu keharusan bagi hamba kepada Tuhannya. Tersirat dalam ayat di atas dua hal yang berupa anjuran untuk bersyukur dan ancaman bagi orang-orang yang tidak bersyukur. Bahwasanya, bagi orang-orang yang bersyukur, niscaya Allah akan menambahkan nikmat-nikmat yang diperoleh dan ancaman bahwa azab atau siksa Allah itu amat pedih.

Dalam sebuah hadits dikisahkan :

Pada suatu malam ‘istri Nabi Aisyah ra. Melihat Rasulullah saw sedang mengerjakan sholat tahajud sampai membuat kaki Rasulullah bengkak yang disebabkan karena Nabi berdiri terlalu lama. ‘Aisyah melihat hal tersebut dan berkata kepada Nabi : Wahai Rasul, mengapa engkau selalu melakukan ini di malam hari, sedangkan hal ini bukanlah suatu kewajiban? Dan juga, bukankah semua dosa-dosamu baik yang akan dating ataupun dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah? Rasulullah Nabi Muhammad saw pun tersenyum dan beliau berkata : apakah salah apabila aku ingin menjadi Hamba Allah yang bersyukur?

Dari keterangan cerita hadits di atas, memberikan kita penjelasan betapa indah yang diajarkan Nabi Muhammad saw., bahwasanya tidak ada satukesombongan pun dalam diri Rasulullah saw. Tidak terdapat rasa bermalasan-malasan yang ada pada diri Rasul untuk selalu mendapatkan cinta sang maha kuasa, meskipun beliau sudah mendapatkan gelar sebagai kekasih Allah swt.

Bagaimanakah cara-cara bersyukur kepada Allah?

Cara bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu sebagai berikut :

Cara bersyukur yang pertama adalah dengan lisan

Bersyukur dengan lisan adalah bersyukur dengan perkataan atau lisan. Orang yang selalu bersyukur akan senantiasa memuji kepada Tuhannya, dengan mengucapkan bacaan tahmid ketika mendapatkan nikmat, membaca Al-Qur'an, beristighfar apabila melakukan kesalahan, dan lain sebagainya.

Lidah orang-orang yang bersyukur akan selalu dibasahi dengan dzikrullah, takbir, tahmid, tahlil yang selalu mengiringi dalam setiap hembusan nafas seseorang. Memberikan tausiah serta saling mengingatkan ketika ada yang melakukan kesalahan dan kekhilafan adalah juga merupakan bagian dari cara bersyukur dengan lisan.

Cara bersyukur yang kedua adalah dengan hati.

Bersyukur dengan hati adalah dengan senantiasamenjaga qalbu atau hati dari berbagai penyakit yang dapat merusak dan mengotori hati seperti sifat iri hati, dengki yang terlarangriya danmunafik.

Hati yang senantiasa bersyukur akan senantiasa berprasangka baik kepada Allah dengan menerima apa yang menjadi ketentuan dan takdir Allahkepadanya dalam kehidupan yang dijalani, tidak berputus asa ketika datang ujian dan cobaan melanda. Dengan ujian dan cobaan tersebut, orang yang bersyukur dengan hati akan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang tegas, tegar dalam menjalani kehidupan yang fatamorgana ini. 

Cara bersyukur yang ketiga adalah dengan amal perbuatan

Bersyukur dengan amal perbuatan adalah melalui tindakan atau amal perbuatan. Perbuatan seseorang dapat menjadi refleksi atau cerminan dari rasa syukur atas nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah. Salah satu contoh bentuk cerminan syukur adalah dengan bersedekah dengan harta yang kita miliki, memberikan dan perbuat banyak kebaikan kepada orang lain. Bersyukur hendaknya selalu diaplikasikan dalam keseharian, misalnya perilaku serta akhlak yang baik dan muliajuga dapat menjadi gambaran dan bentuk dari wujud syukur dalam perbuatan, ramah, sopan santun dalam pergaulan juga merupakan bagian dari rasa syukur itu sendiri.

Bentuk dari cara bersyukur dengan amal perbuatan ini adalah cara bersyukur yang paling penting dalam kehidupan di masa sekarang ini. Sudah semestinya kita ini menjadi rakyat yang bersyukur, bangsa yang bersyukur. Demikian juga bagi para pemimpin, para pemimpin yang menunjukkan wujud syukur dalam perbuatan adalah mereka yang senantiasa menunjukkan dan bisa menjadi contoh suri tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya, bukan menjadi pemimpin yang mengajarkan berlaku dan bertindak kufur atas nikmat Allah.

Itulah cara-cara bersyukur kepada Allah swt.Tuhan yang mencipta alam dan seisinya, Maha menguasai alam dan seisinya, maha pengampun atas semua dosa. Marilah kita senantiasa berdoa, agar dapat menjadi orang yang pandai bersyukur, baik bersyukur dengan lisan, bersyukur dengan hati dan lebih-lebih bersyukur dengan amal perbuatan. Amiin…http://kitabisa.com/pesantrenquranyatim

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arofah

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arofah Pada Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arofah Pada Bulan Dzulhijjah Wednesday , Agustus 23, 201 7 Segala puji hanya milik Alloh yang telah me...